Sabtu, 04 April 2020

KISAHKU (II)

          "Tok.. tok.. tok.." suara ketukan. Ya benar, sumbernya dari pintu. Papa membukakan pintu nya dan ternyata itu dokter. Semua mengalihkan pandangan nya ke pintu, dan seorang dokter tersenyum melirik ke arah ku, aku pun membalas senyumannya. Kami semua terbingung, tiba-tiba dokter datang tanpa panggilan dari kami dan ini belum saatnya untuk mengganti infus ku. "Ada apa Dok?" tanya papa. Dokter itu hanya tersenyum dan datang kearahku. "Ambigu" dalam hatiku. "Udah bagaimana perasaan nya?" tanya dokter itu kepadaku. "Seperti inilah dok, semoga ada mukjizat dok." balasku. "Pertama-tama dokter minta maaf." ucap dokter itu. Sontak raut wajah semua nya tegang, tampak ketakutan. Aku hanya membalas dengan senyuman paksaan lagi. "Apapun hasilnya dok, aku terima... Karna aku percaya dok." potongku. "Bukan gitu... Dokter salah, hasil diagnosis mu ketukar dengan pasien lain, nama kalian sama.. Kamu tidak papa, hanya saja kamu harus lebih banyak lagi istirahat, jangan stres mikiri semuanya." lanjut dokter itu. Semua orang tercengang dan air mata mereka membanjiri wajah mereka, termasuk kedua orang tuaku. Aku juga tidak menyangka ini, true.. ada mukjizat. Orang tuaku semakin semangat merawat aku. Lega rasanya.
***
          Ya, dia emang benar-benar baik, "gila ni cowo" gumamku dalam hati. Dia ngajak aku main bareng, dia juga cerita banyak tentang dia, begitu juga aku. Dia juga sepertinya multitalent dan pintar. Soalnya papa pernah cerita tentang dia dulu tapi aku tidak menanyakan siapa maksud papa. Dia juga dia sering memenangkan lomba katanya. Parah benar.
          Aku sudah diizinkan dokter untuk pulang. Sesampai di rumah tampak 2 orang pria sedang duduk di sofa. "Itu siapa, Pak?" tanyaku kepada papa. "Eh iya, sini-sini" jawab papa sembari membantun tanganku. "Kenalin ini teman bapak.. Mereka jauh-jauh dari luar kota hanya untuk lihat kamu." "Hai om, senang berjumpa dengan om." sapaku. "Hai juga. Kenalin ini anak om." First impression: ganteng, badannya juga keren, uuu type semua cewelah dan sepertinya baik banget. 11:12 la sama Batis, hehe. Kenal batis kan? Kalau tidak kenal, baca blog yang pertama ya, hehehe. "Hai, namaku Roy" sapanya deluan sambil mengulurkan tangannya. "Hai juga, senang berjumpa denganmu" balasku.
***
          Aku senang dengan kehidupan keluarga ku saat ini, tampak seperti keluarga beberapa tahun lalu. Tenang dan damai. Orang tuaku juga tidak melarang aku untuk mengembangkan bakatku. Mereka malah membeli sebuah piano buatku. Aku juga semakin antusias dibuat mereka. "Dor... Ciee,, yang lagi masa2 nya ni!" tiba-tiba mama mengejutkanku. "Hahaha,, apasi ma? Aku nganggap dia teman kok." jawabku terbata-bata. "Dih, emang maksud mama apa?" tanya mama. Aku terdiam dan tidak tau mau gimana meresponnya. Pipiku merah merona bagaikan udang rebus. "Tuh kan, pasti anak mama lagi jatuh cinta nih. Hati-hati loo. Boleh kok tapi hati-hati ya sayang." pesan mama. "Iya ma iya, janji" balasku. Mama itu orang nya gitu. Selalu was-was. Kayak dulu aja, mama nanyain karna aku engga les, semua mama tau. Sungguh, ini keluarga yang kuharapkan. Dan percaya waktu Tuhan itu sangat indah dan pasti terbaik. Jadi buat teman-teman yang lagi sedih atau putus asa tetap semangat ya dan tetap berpengharapan. Perusahaan papa juga semakin menanjak. Senang rasanya.

***
          "Pigi dulu ya Ma, Pa." pamit ku. "Itu Roy jemput kamu" kata papa. 'Hah? Roy? Ini mimpi apa ya Lord' gumamku. Serius, aku ga nyangka dia masih disini dan dia jemput aku.  Wowww. Iya sih... kata papa waktu itu, mereka punya apartemen di kotaku, dan mereka tinggal disana sementara waktu, sampai urusan kantor papa nya selesai. Kirain hanya papa Roy aja, eh anaknya juga ikut. Dia membukakan pintu mobil nya buatku. "Manis.." gumamku dalam hati. Sesampai di sekolah, aku pamit. "Belajar baik2 ya di sekolah." pesannya. Aku tersenyum lebar dan hanya menjawab dengan kata "makasih." Aku sengaja seperti itu, supaya tidak dianggap remeh dan gampang untuk didapat.
                    Hari pertama masuk sekolah setelah keluar dari penjara sementara. Aku awali dengan langkah kecil yang sangat mungil dan senyum semanis gula, walau ga manis-manis kali la, hehe. Murid-murid menyapa ku. Mereka terlihat antusias melihat aku kembali. Terutama sekelasku. Mereka buat seperti perayaan kecil. "Welcome back our sweet girl" kalimat itu muncul di hadapanku. Ini benar-benar mimpi. Mereka sweet banget. Air mata ku tiba2 mengalir, dan aku sungguh terharu dan ini diluar ekspektasi. Kulihat Batis yang juga berpartisipasi memeriahkan perayaan ini.. Padahal dia itu engga sekelasku. "Gila emang nih anak" gumamku.

***
          "Pagi semua!" sapa guru bahasa Indonesia yang tiba-tiba datang dari kejahuan. Namanya bu Vina. "Pagi buuuu.." balas semua murid. Ibu ini guru yang paling kami benci. Bukan benci sih, tapi bisa dibilang tidak suka karna cerewet. Hampir sama ya? Bodolah. Yang penting, kalau udah pelajaran ibu ini, muka semua siswa kek dapat musibah lah, termasuk aku sih, hehehe. Okeoke,, cukup.
Pembelajaran dimulai
***
          Di pertengahan pembelajaran..
          "Tuk.. tuk.. tuk" terdengar suara ketukan. Aku sih bodoamat, aku tetap menggambar-gambar buku ku dan corat-corit di sebuah kertas. Soalnya bosan dengan pelajaran ibu itu, hehe. Tapi aku ga rusuh kok, ga membuat keributan. Jadi sans, hehe. Eh yang muncul ternyata kepala sekolah. Semua nya hening, yang tadinya asik sendiri, jadi ambil posisi siap. "Oke anak-anak... Maaf mengganggu waktunya sebentar. Kita kedatangan murid baru." ucap bu kepala sekolah. Aku santai dan tetap menyoret2 kertas yang di depanku. Kalau gini-gini sih aku emang typical yang bodoamat. "Pagi semua.." sapa murid baru itu. Dalam hatiku kayak pernah dengar nih bunyi. Semua anak2 terpekik apalagi kaum hawa. Kualihkan pandangan ku ke depan. Ups... gila... Itu Roy. "Kenalin namaku Roy" kata nya. Pikiranku hampir tumbang dan ini parah gila sih, ga nyangka. Aku berusaha relax seperti cewe yang ga tertarik sama sekali dengan dia. Padahal jantung ku hampir tercampak, wokwok. "Silakan isi bangku kosong yang di belakang dan selamat bergabung di kelas ini." Kata bu Vina kepada Roy. Dia segera mengisi bangku itu. Untung aku ga dekat dengan dia. Ada 2 bangku yang di depannya yang memisahkan kami. Aku berada di bangku ke dua. Dia dibangku ke lima.


***
          Pembelajaran selesai...
          Bu Vina pamit dilanjut lagi pelajaran MTK. Aku sih santai, soalnya pelajaran ini udah pernah kupelajari. Walaupun bikin sakit kepala. Bukan bermaksud anggap remeh ya. Sampai ke pelajaran terakhir yaitu pelajaran IPA. Yang masuk ini guru killer nih, namanya Bapak Ahmad. Bapak ini bisa membunuh 30 siswa sekaligus, wkwk. Becanda-becanda. Bapak ini killer tapi enak banget kalo dengar bapak ini ngajar. Masuk otak plung. Pelajaran kali ini lumayan mengasikkan, Pak Ahmad membagi kami menjadi beberapa kelompok untuk tugas yang harus diselesaikan saat itu juga. Aku sih malas banget kalo udah tugas seperti ini. Pas dibagi kelompok. Aku terdiam, dan aku dipilih jadi ketua kelompok 1 dan beberapa orang menjadi anggotaku. Dan kelompok 3 itu dia, ya dia Roy. Dia juga jadi ketua kelompoknya. "Waduh, jadi lawan nih, sanggup gak ya nyaingi dia?" tanyaku dalam hati. Aku mencoba seperti tidak panik sama sekali. Aku berjuang dan akhirnya kelompok kami itu yang dapat bintang. Ga nyangka bisa lawan dia. Tapi tadi perasaan dia ga mau jadi juru bicara dan seperti berserah. Dia sengaja ga ya? dalam hatiku, pasti dia sengaja. Soalnya waktu pelajaran MTK tadi dia aktif kok. Ipa juga tadi dia bisa kok ngajari anggotanya. Yaudah bodoamat sih, hehehe.

          "Ting, ting" suara bel yang menandakan pulang.
Lega rasanya. Semua bersiap-siap untuk pulang. "Oke anak-anak, sampai disini pembelajaran kita. Selamat siang" tutup bapak itu. "Terima kasih pak" jawab kami semua.
***
          "Dor" seseorang menggetkan ku dari belakang. Kubalikkan kepalaku. "Eh, hai.. hehehe" jawabaku. Aku terkejut. Ya, dia Roy lagi. Maaf ya, dia terus. Okela lanjut. "Kamu ga pulang? Bareng yok?" lanjutnya. "Serius? Aku naik bus aja." jawabku. "Eits, ayola..." dia jari telunjuknya ke bibirku dan menarik tanganku. Kali ini aku kok ga baper ya? "Aneh" gumanku dalam hati.

***
          Sesampai di rumah,
          "Aku deluan ya, thx ya btw... bye.." ucapku. "Oke, titip salam ya sama om dan tante" pesannya. Aku menganggukkan kepala dan langsung menuju rumah dan ada Batis di sofa. "Tis.. ini lu? lu cepat banget sih nyampe... udah kayak roket aja." ucapku. "Ribut lu, sana ganti baju dulu.. bau keringat.. ingat mandi, jangan hanya ganti baju doang" bentaknya. "Iya siap bos" balasku. Setelah selesai mandi, aku kembali ke ruang tamu. "Tumben lu mampir, ada maunya nih.." awalku. "Apasi? gw mau nanya nih sama lu." ujar Batis. "Nanya apa? Udah kayak artis aja diwawancarai terus" lanjutku. "Dengar2, ada murid baru ya di kelas lo?" tanyanya. "Ouhw, itu.. ada Tis.. Dan lu tau gak (aku langsung duduk di hadapannya) dia ganteng banget.. Aku udah kenal sih, dia itu anak teman papa. Mereka sementara tinggal disini. Paling lama sekitar ....." "Jadi, gw ga ganteng nih?" potong Batis. "Tenang lu itu teman gw yang paling ganteng sejagat raya." balasku sambil melempar bantal yang ada di sofa ke mukanya. Hehehe,, kami udah biasa si seperti ini. Udah akrab lah, jadi engga segan lagi. "Lu hanya mau  nanya gituan? Ga jelas banget Batis sayanggg.." ujarku. "Lu hati-hati ya, yang terbaik buat lu. Gw selalu dukung lo." ucap Batis. Tiba2 dia kok gini ya, tanyaku dalam hati. "Ih, apasih lu? Gajelas banget dah" ucapku. "Yaudah, yok belajar.. tadi kalian belajar apa di sekolah? blablabla..." ajaknya. Diajari Batis itu enak, hanya aja agak capek berpikir. Dia baik banget kalo ngajari, sabar lagi.

         
          Oke, pelajarannya udah selesai dan Batis pamit pulang. "Gw balik ya.. Lu hati2" pesannya sambil mengusap kepalaku. "Iya tenang bos.. Siap itu... Btw, thx ya.. Lu juga hati2 di jalan.. awas jatoh, wkwkw" pesanku.
***
          Besoknya,
          Seperti itu juga. Roy yang ngantar sekaligus menjemput aku. Udah kayak sopir pribadi aja ya kan? hehehe. Hanya saja aku bingung Batis dimana ya? Tumben dia ga jemput aku waktu jam istirahat tadi. Biasanya dia paling heboh.

Bersambung..


~Ezra~

Minggu, 29 Maret 2020

KISAHKU

       "Beruntung" satu kata yang selalu mereka lontarkan kepadaku. Kata mereka aku gadis yang pintar, menawan, anggun, disayang banyak orang, dan serba berkecukupan. Aku hanya tersenyum dan selalu mengucap "Tetapi kalian yang sebenarnya lebih beruntung." Mereka tidak tau apa yang kualami. Jujur aku bukan orang yang seperti itu sebenarnya. Aku selalu mencoba tersenyum di depan mereka. Aku seorang gadis mageran dan seperti orang yang tidak mempunyai tujuan hidup. Orang tuaku yang selalu memaksakan aku bangun pukul 4 pagi dan wajib belajar. Mereka selalu menuntut kepada ku, mereka menyuruh aku les semua mata pelajaran akademik. Jujur, kepalaku selalu pusing jika seperti itu.
          Suatu hari, aku meminta supaya aku les vokal sekaligus les piano, tetapi mereka tidak mengizinkan aku. Mereka bilang, mereka tidak suka, mereka bilang tidak berguna les seperti itu, mereka bilang supaya aku nyanyi-nyanyi sendiri saja soalnya les vokal itu tidak penting. Aku meminta dibelikan piano supaya aku bisa otodidak tetapi mereka juga tidak setuju tetapi aku nekat dan karna aku masih belum bisa mendapat uang sendiri, aku mencoba memakai fasilitas yang disediakan orang tuaku. Aku les nyanyi online dan aku mendownload piano online. Aku belajar otodidak. 
          Saatnya, aku yakin aku bisa menunjukkan kepada orang tuaku bahwa aku mempunyai bakat yang mereka tidak ketahui. Aku mengikuti lomba vocal solo antara pelajar di provinsi ku dan untung saja lokasi nya di kabupaten ku. Aku mengikutinya dan ya, aku bisa dan aku mendapatkan juara 1. Dengan penuh perjuangan dari mulai mendaftar, minjam uang teman, hingga latihan diam-diam dan aku mendapat hasil yang sangat memuaskan. Sesampainya di rumah, ibuku bertanya, "Darimana saja kamu? Kamu tau kan sekarang kamu ada les mtk? Kenapa kamu tidak hadir?" saya terdiam dan langsung ke kamar. Terdengar lagi suara ibuku dari bawah dan ya, seperti prediksi ku.. pasti dan pasti dan ini seperti kegaliban orang tuaku "BERTENGKAR." 
          Aku terkadang malu dengan tetanggaku. Tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Dulu, aku pernah mencoba meleraikan mereka berdua, tetapi mereka membentak ku dan keluar dari mulut mereka kalimat getir "Jangan seperti anak yang sudah mengerti segalanya." Hatiku ambruk dan aku tercenung. Aku langsung pergi ke kamar dan berdoa dan berharapan kepada Tuhan. Aku tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut mereka.  Yah, seperti itulah hidupku. Dikekang dan dianggap tidak berguna.
Suatu hari, ada LCC (Lomba Cerdas Cermat) matematika dan orang tua ku semakin mengekang aku, padahal aku udah berusaha membekam lomba ini. Ibu bilang, "Kau harus bisa, jangan permalukan mama dan papa. Ingat harus fokus!" Aku hanya terdiam dan..... 
Semuanya dimulai....
         "Tis!" sahutku. 
          Ya ini namanya Batis, dia yang selalu memotivasi aku. Dia sudah kuanggap seperti kakak ku sendiri. Di sekolah, kami selalu sama bisa dibilang kayak magnet, hehehe sampai sampai kami dikira menjalin hubungan. Eh, emang menjalin hubungan sih tapi ga pacar cuman sahabat, hehehe. Dia selalu menjaga ku apalagi kalo aku udah diganggu sama teman cowo yang lain, dia langsung turun tangan. Dia hebat, keren lagi, penggemar nya banyak.. bangga deh punya sahabat anggap kakak kek dia. Ngeselin sih kadang tapi itu yang buat jadi asik, hehehe. Udah cukup intro nya, hehehe. Dia mengajari ku rumus ini rumus itu, banyaklah pokoknya and It makes me uuuuu.... udah hampir tahap awas kalau di status gunung meletus, hehehe. Tapi dia selalu menyemangati aku, dia juga salah satu peserta LCC. Untung kami sekelompok. Aku bercerita banyak tentang keluargaku, dan hanya dia yang mengerti keadaanku. Dia juga pendengar setia loo.. hehe. Aku juga pernah sih hampir klepek-klepek dibuat tapi gaboleh, aku gamau mutusi hubungan yang udah cocok bagiku.
          Beberapa hari lagi puncaknya, dan aku berdoa dan semoga aku bisa. Soalnya jika aku gagal, orang tua ku akan memarahi aku habis-habisan.. perih rasanya. Tetapi rasa takut tak bisa menyelimuti ku. Aku percaya ada mukjizat. 
Dan ini saatnya... 
          "Ting.. ting... ting..." bunyi bel yang menandakan semua peserta lomba supaya berkumpul dan LCC nya dimulai... Aku melihat ibuku dengan mimik dingin duduk di bangku yang telah disediakan buat para pendamping peserta lomba. Mama menatapku dan ngodein supaya aku tidak malu-maluin. Aku berdoa dan Batis memegang pundakku bermaksud menyemangati. Dia memang benar-benar tau apa yang kurasakan.. Semua soal aku hampir habisi dan ya ada mukjizat bagiku... Itu tidak seperti ekspetasiku semua. Untung juga Batis tadi membantu aku sedikit-sedikit, dia memberi rumus tadi. Mamaku senang sekali dan itu pertama kali kucelik senyum ibuku dari hati terdalam semenjak keluargaku runtuh. Sesampai di rumah, aku pamit kepada Batis dia tersenyum dan berpesan, "Apa yang kau lihat nanti......... semangat ya!" Aku menjawab, "OK" dengan langkah seperti dapat mobil lambor berpikir hari ini bakalan jadi hari yang paling bahagia bagi hidupku dan ternyata... Sumbernya dari kamar, terdengar suara hantaman dan seperti biasanya lagi.. Uh.. aku letih. Aku tidak menyangka ini bakalan terjadi... Papaku selingkuh dan ingin bepisah dengan mama. Aku mencoba mendamaikan mereka dengan sekuat tenagaku dan selalu berharap. Tidak ada pilihan lain, aku nekat minta tolong kepada guruku supaya papa diajak ke sebuah cafe dengan alasan "guruku ingin ketemu dengan papa." Dan aku dipertemukan dengan papa.. Sudah lama aku tidak merasakan kasih sayang seorang ayah semenjak keluarga kami runtuh dan papa sibuk kerja. Sudah lama aku tidak meminum kopi bareng papa. Papa doyan banget kopi sama seperti aku, keturunan mungkin ya, hehehe. Aku berbicara 4 mata dengan papa dan jujur dengan semua yang kupendam selama ini. Papa meneteskan air mata dan berkata, "Papa terpaksa selingkuh nak, kantor papa down nak dan caranya itu dengan ini nak." Air mataku mengalir sendiri membasahi wajahku. "Papa itu orang yang kuat, Papa cinta keluarganya, aku tidak mau hanya gara2 pekerjaan keluarga kita jadi seperti ini, Pa." balasku. Aku mencoba berbagai cara supaya papa dan mama tidak jadi pisah. Dan akhirnya sukses.
          Tetapi...........
          "Au!" Tiba2 kepalaku pening sekali dan hilang keseimbangan. Papa langsung membawa aku ke rumah sakit dan diagnosis aku mengidap kanker otak stadium 3. Speechless.... Aku sedih dan berpesan bagi semua nya termasuk Batis teman dekatku, " Hidupku tidak lama lagi... Terimakasih sudah pernah menjadi teman baik ku Batis. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti mu. Buat Mama dan Papa, aku sungguh bersyukur sekali memiliki orang tua seperti kalian. Terima kasih Ma Pa udah menghadirkan aku di dunia ini, aku ingin kembali ke asal ku Pak, Ma. Aku ingin Mama dan Papa seperi suami dan istri yang sebenarnya. Ma, aku banyak salah... Aku dulu melanggar perintah Mama, sebenarnya Ma, dulu aku pernah ikut lomba vocal solo tetapi disitu mama memarahi ku dan berantam dengan Papa, hadiah nya masih ada kok ma, hadiah nya buat Mama dan Papa... Hadiah nya kubuat di lemari tengah, di tumpuan pakaian ku. Aku sengaja Ma, Pa supaya tidak ketahuan sama Mama dan Papa. Aku sayang kepada kalian Ma, Pa. Terima kasih buat segalanya...."


~Ezra~