"Beruntung" satu kata yang selalu mereka lontarkan kepadaku. Kata mereka aku gadis yang pintar, menawan, anggun, disayang banyak orang, dan serba berkecukupan. Aku hanya tersenyum dan selalu mengucap "Tetapi kalian yang sebenarnya lebih beruntung." Mereka tidak tau apa yang kualami. Jujur aku bukan orang yang seperti itu sebenarnya. Aku selalu mencoba tersenyum di depan mereka. Aku seorang gadis mageran dan seperti orang yang tidak mempunyai tujuan hidup. Orang tuaku yang selalu memaksakan aku bangun pukul 4 pagi dan wajib belajar. Mereka selalu menuntut kepada ku, mereka menyuruh aku les semua mata pelajaran akademik. Jujur, kepalaku selalu pusing jika seperti itu.
Suatu hari, aku meminta supaya aku les vokal sekaligus les piano, tetapi mereka tidak mengizinkan aku. Mereka bilang, mereka tidak suka, mereka bilang tidak berguna les seperti itu, mereka bilang supaya aku nyanyi-nyanyi sendiri saja soalnya les vokal itu tidak penting. Aku meminta dibelikan piano supaya aku bisa otodidak tetapi mereka juga tidak setuju tetapi aku nekat dan karna aku masih belum bisa mendapat uang sendiri, aku mencoba memakai fasilitas yang disediakan orang tuaku. Aku les nyanyi online dan aku mendownload piano online. Aku belajar otodidak.
Saatnya, aku yakin aku bisa menunjukkan kepada orang tuaku bahwa aku mempunyai bakat yang mereka tidak ketahui. Aku mengikuti lomba vocal solo antara pelajar di provinsi ku dan untung saja lokasi nya di kabupaten ku. Aku mengikutinya dan ya, aku bisa dan aku mendapatkan juara 1. Dengan penuh perjuangan dari mulai mendaftar, minjam uang teman, hingga latihan diam-diam dan aku mendapat hasil yang sangat memuaskan. Sesampainya di rumah, ibuku bertanya, "Darimana saja kamu? Kamu tau kan sekarang kamu ada les mtk? Kenapa kamu tidak hadir?" saya terdiam dan langsung ke kamar. Terdengar lagi suara ibuku dari bawah dan ya, seperti prediksi ku.. pasti dan pasti dan ini seperti kegaliban orang tuaku "BERTENGKAR."
Aku terkadang malu dengan tetanggaku. Tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Dulu, aku pernah mencoba meleraikan mereka berdua, tetapi mereka membentak ku dan keluar dari mulut mereka kalimat getir "Jangan seperti anak yang sudah mengerti segalanya." Hatiku ambruk dan aku tercenung. Aku langsung pergi ke kamar dan berdoa dan berharapan kepada Tuhan. Aku tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut mereka. Yah, seperti itulah hidupku. Dikekang dan dianggap tidak berguna.
Suatu hari, ada LCC (Lomba Cerdas Cermat) matematika dan orang tua ku semakin mengekang aku, padahal aku udah berusaha membekam lomba ini. Ibu bilang, "Kau harus bisa, jangan permalukan mama dan papa. Ingat harus fokus!" Aku hanya terdiam dan.....
Semuanya dimulai....
Ya ini namanya Batis, dia yang selalu memotivasi aku. Dia sudah kuanggap seperti kakak ku sendiri. Di sekolah, kami selalu sama bisa dibilang kayak magnet, hehehe sampai sampai kami dikira menjalin hubungan. Eh, emang menjalin hubungan sih tapi ga pacar cuman sahabat, hehehe. Dia selalu menjaga ku apalagi kalo aku udah diganggu sama teman cowo yang lain, dia langsung turun tangan. Dia hebat, keren lagi, penggemar nya banyak.. bangga deh punya sahabat anggap kakak kek dia. Ngeselin sih kadang tapi itu yang buat jadi asik, hehehe. Udah cukup intro nya, hehehe. Dia mengajari ku rumus ini rumus itu, banyaklah pokoknya and It makes me uuuuu.... udah hampir tahap awas kalau di status gunung meletus, hehehe. Tapi dia selalu menyemangati aku, dia juga salah satu peserta LCC. Untung kami sekelompok. Aku bercerita banyak tentang keluargaku, dan hanya dia yang mengerti keadaanku. Dia juga pendengar setia loo.. hehe. Aku juga pernah sih hampir klepek-klepek dibuat tapi gaboleh, aku gamau mutusi hubungan yang udah cocok bagiku.
Beberapa hari lagi puncaknya, dan aku berdoa dan semoga aku bisa. Soalnya jika aku gagal, orang tua ku akan memarahi aku habis-habisan.. perih rasanya. Tetapi rasa takut tak bisa menyelimuti ku. Aku percaya ada mukjizat.
Dan ini saatnya...
"Ting.. ting... ting..." bunyi bel yang menandakan semua peserta lomba supaya berkumpul dan LCC nya dimulai... Aku melihat ibuku dengan mimik dingin duduk di bangku yang telah disediakan buat para pendamping peserta lomba. Mama menatapku dan ngodein supaya aku tidak malu-maluin. Aku berdoa dan Batis memegang pundakku bermaksud menyemangati. Dia memang benar-benar tau apa yang kurasakan.. Semua soal aku hampir habisi dan ya ada mukjizat bagiku... Itu tidak seperti ekspetasiku semua. Untung juga Batis tadi membantu aku sedikit-sedikit, dia memberi rumus tadi. Mamaku senang sekali dan itu pertama kali kucelik senyum ibuku dari hati terdalam semenjak keluargaku runtuh. Sesampai di rumah, aku pamit kepada Batis dia tersenyum dan berpesan, "Apa yang kau lihat nanti......... semangat ya!" Aku menjawab, "OK" dengan langkah seperti dapat mobil lambor berpikir hari ini bakalan jadi hari yang paling bahagia bagi hidupku dan ternyata... Sumbernya dari kamar, terdengar suara hantaman dan seperti biasanya lagi.. Uh.. aku letih. Aku tidak menyangka ini bakalan terjadi... Papaku selingkuh dan ingin bepisah dengan mama. Aku mencoba mendamaikan mereka dengan sekuat tenagaku dan selalu berharap. Tidak ada pilihan lain, aku nekat minta tolong kepada guruku supaya papa diajak ke sebuah cafe dengan alasan "guruku ingin ketemu dengan papa." Dan aku dipertemukan dengan papa.. Sudah lama aku tidak merasakan kasih sayang seorang ayah semenjak keluarga kami runtuh dan papa sibuk kerja. Sudah lama aku tidak meminum kopi bareng papa. Papa doyan banget kopi sama seperti aku, keturunan mungkin ya, hehehe. Aku berbicara 4 mata dengan papa dan jujur dengan semua yang kupendam selama ini. Papa meneteskan air mata dan berkata, "Papa terpaksa selingkuh nak, kantor papa down nak dan caranya itu dengan ini nak." Air mataku mengalir sendiri membasahi wajahku. "Papa itu orang yang kuat, Papa cinta keluarganya, aku tidak mau hanya gara2 pekerjaan keluarga kita jadi seperti ini, Pa." balasku. Aku mencoba berbagai cara supaya papa dan mama tidak jadi pisah. Dan akhirnya sukses.
Tetapi...........
"Au!" Tiba2 kepalaku pening sekali dan hilang keseimbangan. Papa langsung membawa aku ke rumah sakit dan diagnosis aku mengidap kanker otak stadium 3. Speechless.... Aku sedih dan berpesan bagi semua nya termasuk Batis teman dekatku, " Hidupku tidak lama lagi... Terimakasih sudah pernah menjadi teman baik ku Batis. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti mu. Buat Mama dan Papa, aku sungguh bersyukur sekali memiliki orang tua seperti kalian. Terima kasih Ma Pa udah menghadirkan aku di dunia ini, aku ingin kembali ke asal ku Pak, Ma. Aku ingin Mama dan Papa seperi suami dan istri yang sebenarnya. Ma, aku banyak salah... Aku dulu melanggar perintah Mama, sebenarnya Ma, dulu aku pernah ikut lomba vocal solo tetapi disitu mama memarahi ku dan berantam dengan Papa, hadiah nya masih ada kok ma, hadiah nya buat Mama dan Papa... Hadiah nya kubuat di lemari tengah, di tumpuan pakaian ku. Aku sengaja Ma, Pa supaya tidak ketahuan sama Mama dan Papa. Aku sayang kepada kalian Ma, Pa. Terima kasih buat segalanya...."
~Ezra~
